Saturday, December 15, 2007

Motion Sensing Control

Jika kehadiran wii terasa fenomenal tentunya itu tak terlepas dari 'kenekatannya' dalam hal kontroler 'motion sensing-nya'. Konsep yang tidak terlalu baru (karena sebelumnya telah ada sejumlah uji coba motion sensing controller yang tidak terlalu berhasil) sejauh ini memang sukses di sejumlah genre game. Saya sendiri memiliki perasaan yang baur terhadap penggunaan wiimote dan nunchuk. Di sejumlah genre (yang untungnya merupakan kegemaran saya) seperti: Rail Shooter, FPS dan Racing tampaknya penggunaan wiimote memang ideal ketimbang kontroler tradisional seperti joystick.

Tetapi entah karena kekurang tekunan atau terburu-buru di genre lain penggunaan wiimote dan nunchuk cenderung mengganggu, dan membosankan. Genre adventure RPG misalnya acap terperosok menjadi sekadar game hack & slash yang terlalu repetitif. Mungkin bagi developer yang tidak mengerti cara terbaik memanfaatkan wiimote dan nunchuck atau sekadar mem-port title dari console lain, jalan satu-satunya adalah secara default memberikan pilihan untuk menggunakan GC joystick. Untuk developer game tidak kreatif diluar sana: Jangan malu-malu menggunakan GC joystick meski terlihat makin tidak kreatif,  hal tersebut menghindari game yang anda rilis menjadi lebih memalukan.

Backward Compability & Emulation

Setelah melalui pertarungan dua tahun yang sengit, untuk saat ini 'console wars' dimenangi oleh Nintendo lewat Wii. Tentunya berdasarkan 'life cycle' consoles waktu dua tahun belum dapat mengamankan posisi Wii sebagai pemenang generasi ini. Terbukti Microsoft lewat Xbox 360-nya yang sudah melenggang dua tahun lebih awal dapat dengan mudah dipecundangi. Hal yang sama bisa jadi menimpa Wii manakala console lain berbenah diri.

Sukses wii memang terasa mengejutkan, karena bagi kebanyakan pihak kehadiran console baru selalu harus identik dengan tenaga mentah baru terutama dalam hal pengolahan grafis. Ini hal yang nyata-nyata agak dikesampingkan oleh Nintendo karena sejak awal dengan tenang berani meluncurkan console yang oleh beberapa pihak dianggap cuma sekadar perbaikan dari console sebelumnya Game Cube. Konon (karena Nintendo tak jua merilis spesifikasi detail console-nya) kekuatan mentah wii dalam hal pengolahan grafis cuma 1.5 x Game Cube.

Lantas mengapa wii sukses? Sebagian besar orang tentu memberikan jawaban: Karena penggunaan wiimote dan nunchuck. Meski ada benarnya, motion sensing controller bukanlah satu-satunya yang membuat wii sukses (baca link motion control). Selain faktor harga, timing, dan dukungan fans serta promosi yang pas. Wii adalah satu-satunya console (disamping DS) yang memberikan jaminan kompabilitas dengan console sebelumnya. Tidak seperti backward compability Sony yang terus terasa bermasalah sejak ditawarkan di PS2 dan diam-diam untuk mengurangi harga di rubah menjadi sekadar emulasi (atau malah dihilangkan?) di PS3. Nintendo menjamin backward compability selama syarat region dipatuhi.

Bahkan lebih dari itu, dengan pustaka game masa lalu yang besar, Nintendo bahkan menawarkan konsep virtual console yang cukup sukses. Layanan yang memungkinkan pemilik wii mendownload konten game nostalgia dan memainkannya lagi secara resmi dengan bayaran wii points ini, juga mengikat perjanjian dengan platform lain sehingga judul yang ditawarkan tidak terbatas pada pustaka Nintendo tapi juga dari pihak lain.

Untuk mereka yang 'berani' dan lebih memilih jalur 'otak-atik', di Internet bertebaran berbagai program emulasi dan ROM yang bisa di download dan dimainkan meski ada di jalur setengah ilegal. Berkat kompabilitas-nya dengan game cube, para pengguna emulator dapat langsung menjalankan emulator yang sudah dikembangkan sejak dulu di atas Game Cube. Yang dibutuhkan cuma koneksi internet untuk mendownload tool dan rom yang dibutuhkan (beberapa bahkan sudah berformat iso), PC dan DVD-RW.

Buat backward compability dan emulasi wii telah menjadi juara sejati di perang console generasi ini.