Sunday, October 7, 2007

Level 1

Artikel ini adalah artikel pertama saya di videogameslogs, sebuah blog yang saya siapkan khusus untuk menuliskan pandangan dan pendapat saya mengenai video game. Bagi saya video game bukan sekadar hobi, tapi sudah menjadi bagian dari hidup. Sejak pertama saya melihat video game dalam bentuk Game & Watch, sesuatu telah menyentuh saya dan berkata: Ini sesuatu yang mengasyikkan. Sayangnya saya masih tinggal dalam dunia orang dewasa yang lebih senang memandang video games sebagai biang kemalasan belajar, sehingga video game pertama saya baru hadir ketika saya memiliki sebuah komputer.

Walau demikian tak ada yang dapat menghentikkan saya untuk menikmati video game, meski saya bukanlah pemain video game wahid dan sangat mungkin anak sepuluh tahun mengalahkan saya dalam permainan FIFA 2008. Saya mengalami masa-masa yang indah dengan video games. Ikut mengalami kehebohan saat ATARI masuk pertama kali ke Indonesia dan ikut antri memainkannya di salah satu stand di Senayan saat Hari Anak Nasional yang dibuka almarhumah Ibu Tien. Saat Digger melanda Indonesia di komputer XT dengan layar CGA-nya saya pun ikut memainkannya meski sekadar nebeng di komputer salah satu om saya. Keterlibatan saya lebih jauh adalah ketika era arcade yangd ikenal dengan dingdong mulai merambah masuk ke bioskop kelas kambing dekat rumah. Arcade center tersebut seingat saya menempati salah satu ruangan bekas kantor bioskop dan hanya terdiri dari beberapa unit. Bahkan tak jarang salah satu tombolnya dimatikan untuk membuat pemain cepat kalah. Disini saya betah berjam-jam menonton anak lain bermain. Buat saya menyaksikan animasi di layar video game adalah tontonan kecanggihan teknologi yang bisa disaksikan gratis tanpa bayar.

Ketekunan saya bermain barulah terjadi ketika di rumah tersedia komputer dan saya dapat bermain dengan cukup bebas. Saat itu game-game yang umumnya tersedia dalam bentuk bajakan di atas media disket 51/4, bisa menyihir saya berjam-jam. Apalagi ketika saya memaksakan diri memainkan game FPS yang tanpa sadar membuat saya melewati jam-jam kuliah. Akhirnya kesempatan memiliki konsol datang ketika saya mulai menghasilkan uang sendiri dan tentu saja saya mengikuti arus utama sejak PSX dan berlanjut ke PS2. Kini saya cukup puas mengibaskan tangan dan kaki bak orang gila melalui WII sembari menunggu PS3 turun harga.

No comments: